Cerpen Singkat - Cinta di Akhir hayat Aisyah.

Cerpen Singkat- Jodoh memang rahasia Allah SWT. Tak ada satupun yang dapat mencegah bertemunya dua hati yang telah ditakdirkan bersatu, jika saatnya sudah tepat. Semua akan indah pada waktunya. Itulah mungkin yang kita ketahui tentang cinta selama ini.


Cinta di Akhir Hayat


Oleh: Nurwatu Urumacy/facebook
Diedit ulang titisanpenabook 2020

Hari ini Adalah tanggal dua puluh delapan Januari, hari yang sangat dinantikan, suasana semarak dengan alunan Rabana menggema menggelora di jalan Keramat jati. Para tamu yang hadir, tak henti-hentinya memperbincangkan kedua mempelai, penuh rona kegembiraan dan kekaguman.
Perbincangan itu wajar, bagaimana tidak? Pengantin yang tengah dilanda kasmaran itu, adalah salah satu Hafidzoh dikampungnya, hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk belajar dan menghafal Al-Qur'an. Dalam pernikahan ini, adik ketiga pengantin perempuan yang menjadi wali pernikahan mereka.

Sebuah Tepi jalan, tepatnya dilorong masuk tempat berlangsungnya acara, terpahat sebuah tulisan Muhammad Ramadhan dan Adinda Aisyah.
Mereka adalah teman satu Pondok Pesantren yang berada tak Jauh dari kediaman Ramadhan. Siapa yang menyangka, setelah berpuluh tahun mereka mondok dan Akhirnya mereka dipertemukan dalam satu ikatan Ijab qobul. Sungguh ini adalah momen yang sangat indah, karena mereka melalui pertemuan ini tidaklah melewati Pacaran ataupun lainnya. Melainkan melalui Proses Ta'aruf.

Ekspresi indah dibalik Cadarnya membuktikan betapa bahagianya di saat itu, walaupun dalam acara pernikahan, Aisyah tetap Istiqomah menggunakan Cadar demi menjaga dari pandangan orang lain, Sungguh indah bukan? Namun, siapa yang sangka, dibalik kebahagiaannya ini tersimpan sebuah kisah memilukan tentang Aisyah, walaupun senyum kebahagiaannya sangat besar, tetap saja tidak bisa menyembunyikan sakit kanker yang sedang dideritanya saat in.
Walaupun begitu, Sang Ramadhan tetap menguatkan Aisyah yang saat itu sudah sah menjadi istrinya  dengan genggaman kehangatan. Sentuhan halal dari lawan jenis yang baru dirasakan seumur hidupnya. Saling menatap. Ia tahu, usia Aisyah tinggal menunggu waktu. Namun, tekadnya, menghantarkan sang istri kembali ke Robb-nya dengan menunaikan sunnah rosulnya, menunaikan separuh agama sangatlah kuat dan Kokoh.

Bayangan berkaca-kaca di mata Ramadhan menatap penuh cinta dan kasihnya. Senyum ketulusan dan benar-benar telah siap mendampingi Aisyah seperti Janji yang telah Ia ucapkan dalam pernikahannya..
Mungkin, sebahagian orang menggangap Ramadhan adalah laki-laki yang bodoh, karena mau menikah perempuan yang sudah jelas memiliki penyakit berat. Jawabnya ' Allah telah mempertemukan kami untuk menjalin sebuah janji suci, aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah Allah SWT berikan padaku, karena aku tau tidak ada pertemuan yang tidak sengaja, semuanya sudah ada dalam takdir kehidupan kita. Dan, mungkin inilah takdiri yang Allah berikan padaku, Memiliki istri yang cantik layaknya bidadari surga sebagai pelindung dan pendamping hidupku'.

Hati keciil Ramadhan Tak henti berdo'a, berharap ada keajaiban yang akan terjadi pada Istrinya, hingga bisa hidup bersama dengan Aisyah lebih lama lagi.

"Dik Aisyah, [ إني أحبك في اللهUhibbuki fillah Zaujati. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dalam kebaikan," ucap Ramadhan seraya mengusap lembut kepala Aisyah.

Aisyah mengulas senyum, Seraya membalas ' [ إني أحبك في الل ] Ahabbakalladzi ahbabtani lahu." Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-NyaSuamiku. membalas sentuhan dengan mengecup berulang tangan Ramadhan. Bulir kristal menetes perlahan menyisakan bekas di atas taburan bedak.
Ramadhan dengan cepat langsung membersihkan Air mata Aisyah dengan jari manisnya, mengusap lembut. Membisikan di telinga Aisyah untuk menguatkanya. "Sanuajih Maeaan - Kita akan hadapi Bersama-sama, Aisyah."
***

Waktu terus berjalan, tak ada kekuatan yang mampu menghentikan. Demi cinta Ramadhan kepada Aisyah, ia telah rela, meninggalkan semua pekerjaannya untuk terus mendampingi Aisyah di masa pengobatanya. Bolak-balik ke rumah sakit sebagai ikhtiar untuk penyembuhan Aisyah.
Ramadhan dan Aisyah tak pernah menyerah, do'a dan Usaha pun tiada putus. Namun, sakit yang Aisyah derita, semakin membuat tubuhnya ringkih dan lemah. Pada tanggal dua puluh enam September, dokter memutuskan harus melakukan Operasi untuk mengangkat Sel Kanker yang ada ditubuh Aisyah.
Aisyah yang saat itu tidak bisa apa-apa, hanya pasrah dan menerima semua takdirnya, Ramadhan yang saat itu sangat sedih, menguatkan hatinya untuk tidak menangis demi menguatkan Istri Tercintanya.. 

Di rumah sakit kanker Kusuma, Aisyah terus berjuang untuk melawan penyakitnya. dalam renungannya terdengar suara Ayat Suci Al-Qur'an dari bibir Aisyah yang saat itu hanya terbaring lemas. Mendengar suara Bacaan Aisyah, membuat satu keluarga yang saat itu melihatnya menangis. Walaupun semuanya menangis, Ramadhan tetap tegar  dan bertekad tidak akan menangis, walaupun hatinya sangat ingin menangis.

Ramadhan yang saat itu mendengar Bacaan Aisyah, langsung ikut menbaca sampai habis, seraya memeluk tubuh Aisyah yang sudah lemas, Aisyah memang sosok yang tangguh, waktunya dihabiskan untuk pengabdian masyarakat, mencerdaskan anak bangsa dan menebarkan syiar kebaikan. Perempuan berkulit putih dengan tinggi semampai adalah seorang penghafal Alqur'an. Ia paham, Allah memberikan ujian sakit itu karena mampu memikulnya.


"Aisyah, aku tak akan menanyakan rasanya. Namun, aku dapat melihat apa yang kau rasa dari setiap hela nafas dan tatapanmu, bersabar dan teruslah menyebut nama Allah SWT. InsyaAllah berkurang rasa sakit itu."
"Terima Kasih, Suamiku. Allah tak salah memilihkan kamu sebagai jodoh diakhir hidupku ...."
Ramdhan langsung menutup bibir Aisyah agar tak melanjutkan berbicara.
"Jangan pernah mendahulukan takdir Allah, Aisyah! Kamu ingat Ayat Al-'Imran Ayat:145?"

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْءَاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ

Artinya: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

" Butiran air perlahan jatuh dari pipi Aisyah, Ramadhan langsung mengusap Air mata itu dengan tangannya, kamu harus sabar Istriku. "

***
Pukul 23.50 WIB, Ramadhan terus berada disamping Aisyah. Tubuhnya sangat lemah, mata pun seakan enggan untuk terbuka.
"Suamiku, terimakasih. Maafkan aku."
" Assalamu'allaikum Suamiku, seraya terseyum dengan wajah yang semakin pucat "

Dikecup berulang sang istri, jemari kekarnya merengkuh bahu Aisyah yang nampak sulit bernapas.
Sebuah kalimat tauhid keluar perlahan dari bibir putri yang mulai membiru, tubuhnya terasa dingin.
Dalam pelukan Ramadhan, Aisyah telah kembali bertemu pencipta-nya. Tubuhnya ringan meninggalkan raga, senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya.

Ramadhan yang selama ini selalu terlihat tegar, perlahanan hatinya runtuh.
Menangis ...walau hampir tanpa suara. Airmata memenuhi kemeja biru yang ia kenakan.
Mencoba ikhlas dan menerimanya.

"Innalilahi Wainna Ilaihi Rojiuun ... selamat jalan, Sayang." Sebuah ucapan lirih keluar dari rongga mulut Ramadhan. Terdengar berat dan nampak gemuruh duka bergenderang di dadanya.
Tanggal empat November, suasana duka meliputi kediaman Aisyah.
Hari itu, seorang Hafidzoh telah meraih mimpinya, bertemu dengan Sang Robb dengan status sebagai istri, bukan tanpa pasangan.
Zuliardo Untuk Kamu, Kalian para pemuda,Sebaris kata salam perkenalanku,Kalian penikmat sajak dan Cerita,Sehelai kata membuka diary. Salam Kenal Semuanya....

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Singkat - Cinta di Akhir hayat Aisyah."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel