Cerpen Singkat - Pertanyaan Sejuta Orang. Kapan Nikah?

Cerpen singkat- Meratapi nasib adalah keseharianku. Padahal jika dipikir-pikir aku tidak kalah cakep dibanding anak Bu Siska yang punya jerawat banyak, tapi bisa gonta-ganti pacar tiap bulan. Ehe. Rasa heren bin penasaran membuatku iri setengah sedih. Kok bisa sih? Hem, namaku Raihan Al Fajri, tapi orang-orang sekitar biasa memanggilku Bang rey. Entah bagaimana awal mulanya nama panggilan itu bisa sampai semelekat ini dengan diriku. Putih manis adalah julukanku, katanya. Bulu mataku lentik bak Barbie. Eh, maksudku bagai bulu mata Barbie. Telah kupunya sejak lahir dari rahim Emak. Bukannya sombong. Hanya saja itu sedikit fakta tentang ciri fisikku. Memiliki tinggi badan 175 sentimeter, turunan dari Abah yang emang faktanya beliau memiliki tinggi badan di atas rata-rata dan di bawah rata-rata juga.




Diedit ulang oleh: titisanpenabook
Alhamdulillah aku sudah lulus kuliah dapat gelar S-1, pekerjaan tetap juga sudah punya. Walaupun gaji di bawah 10 juta. Namun, yang penting ada usaha untuk lebih maju kedepannya. Rumah sendiri pun sudah ada, biar dikata rumah kecil nan minimalis tapi hasil duit sendiri. Alhamdulillah aku tak henti bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepadaku. Kendaraan pun tidak banyak kendala. Walaupun, sudah ada 1 motor Yamaha hasil beli tanpa kredit. Tapi rasanya aku masih tidak bisa Move On dengan kendaraan lamaku. Karena disana, semua kisah perjuanganku selama ini terlukis untuk dikenang.Tapi, walaupun gaji yang lumayan, rumah sendiri dan kendaraan pribadipun sudah ada, tetap saja rasa kesepian dalam diriku tidak bisa dibeli dengan Uang. Maksudnya, tetap saja aku merasa kurang jika belum ada bidadari yang menemani disampingku. 
Di usiaku yang sudah 25 tahun adalah waktu yang paling tepat untuk memiliki seorang Istri. Tapi, Rasanya sangat sulit menemukan bidadariku, hal ini hampir membuatku prustasi dan menyerah untuk mencari pendamping hidup. Teman-teman sebayaku sudah pada punya Istri. Bahkan dulu sekali, setelah lulus SMK teman kelasku beberapa bulan kemudian langsung membagikan undangan pernikahan. Tapi, ya udahlah fikirku, mungkin belum saatnya aku menikah, yang penting jangan lupa usaha dan Do'a.
Ya..kita lupakan sejenak tentang bidadari Hhhe. Disini aku tinggal sendiri tak ada teman atapun keluarga yang menemani. Tapi, ibuku terkadang sering datang ke rumahku, walaupun gak sering-sering mata sihh. Hari Ahad adalah hari dimana sudah dipastikan ibu datang ke rumahku. Ya...benar saja " dalam fikiranku. " Tak lama ak melihat ibu datang menuju rumahku. aku melihat rantang ditangan ibuku, aku fikir itu pasti makanan kesukaanku.  Seperti biasanya ibuku setiap berkunjung pasti membawa makanan kesukaanku. Namun, dibalik itu ternyata ibu tidak hanya mengantarkan serantang makanan saja. Melainkan. sejuta pertanyaan. Dan, Kapan NIKAH adalah pertanyaan yang paling sering aku dengar dari ibuku
"Kamu teh gimana Rey, umur udah tua tapi belum juga kawin. Mau sampai kamu jadi bujangan?Apa kamu gak kesepian?Apa kamu gak ingin punya anak? Ibu juga sudah gak sabar atuh mau gendong cucu Rey.
Kamu nggak kasihan sama Ibu? Sama Ayah nggak kasihan kamu? Lihat itu si Ragil teman kamu di SMK dulu, dia sudah punya anak lagi! Lah Kamu, jangankan punya anak dua. Nyari istri saja susahnya minta ampun. Gimana kamu ini Rey! dugi ka iraha?
Nih, Rey, Ibu sama Ayah nihh, malu sama tetangga. Masa kamu laki berpendidikan, hidup sudah enak belum dapet istri? Hayu gimana? jangan nyari duit mulu kamu Rey.---"
"Nikah, Bu," Ucapku pada ibu. Jika bicara Nikah ibuku tidak akan ada habisnya membahasnya. Setiap Ahad ibuku selalu memberikan Berjuta pertanyaan seputar Pernikahan. Sampai-sampai, aku sendiri hafal akan urutan semua pertanyaan yang akan ibu lontarkan kepadaku. Lihat saja, Ketika beliau datang ke rumah lalu duduk di kursi sambil menemani aku makan, beliau langsung menghujaniku dengan pertanyaan. Kapan Nikah? Jika saja pertanyaan tadi tidak aku potong, pasti sekarang masih belum berhenti pertanyaannya. Hhhhe..Tapi, walapun begitu. Tetap saja, beliau adalah ibu yang telah melahirkanku ke dunia. Karena, menurutku itu adalah hal yang wajar bagi seorang ibu yang Khawatir melihat anaknya masih bujangan sampai umur 25Thn. 
"Kalau orang tua sedang bicara jangan suka memotong. Tidak sopan!" omel ibuku yang hampir membuatku tersedak ketika minum. Kalau bukan orang tuaku, pasti sudah aku tinggal pergi masuk ke kamar. Mungkin, aku sudah menghardik wanita-wanita seperti Ibuku ini. Huhftt... yang sabar Rey " Ucapku dalam hati " ....
Kata-kata ibuku memang terlalu pedas melebihi cabe rawit yang gak mungkin langsung dikunya oleh sembarang orang. Ah, tapi Perkataan Ibuku malah langsung kutelan tanpa dikunyah karena saking pedasnya.
Aduhai bidadari surgaku ....
Di manakah saat ini engkau berada?
Huuftt.. Aku sudah sangat lelah membujang ....
Hampir setiap hari Ibu menanyakanku. Kapan Nikah? 
Oh, bidadari surgaku ....
Sungguh aku merasa kasihan kepada diriku sendiri,
Sudah usaha, tapi tak kunjung bertemu.
Apakah kamu tega melihat diriku ini. wahai bidadari surgaku?
Hidupku terasa tiada arti tanpamu.
Hati terasa hampa jika aku belum jumpa denganmu Bidadariku                                              Duniaku seakan tak ada warna tanpa kehadiranmu.
Ohh bidadariku.                                                                                                                          Jika dirimu ada didekatku, marilah cepat tunjukan kecantikanmu.                                            Agar diriku bisa melihat calon ibu bagi anak-anakku nanti.
Puisi alay harapan sebuah Jodoh mengalun merdu dalam sanubariku. Gemericik air terdengar dari luar, suara angin berhembus menemaniku. karena Ibuku sedang mencuci rantang yang beliau bawa. Sebenarnya, aku sendiri pun bisa mencucikan rantang tersebut. Akan tetapi, karena Ibu yang tiba-tiba pergi ke dapur jadi kubiarkan beliau melakukannya sendiri. Aku tahu mood Ibuku sedang tidak baik sekarang.
Sekitar jam 16.15 sore Ibu pun sudah pulang dari rumahku. Aku berniat untuk menghantarkan beliau pulang dengan, Tapi, malah ditolak. Dengan alasan mau mengunjungi ke rumah Ibu RT terlebih dahulu. Entah apa Alasan Ibu mendatangi kediaman Ibu RT. Namun, sebelum beliau pamit, beliau sudah kembali memberikanku Kata dan pertanyaan tentang diriku dan Kapan aku Nikah? Duh, Ibuku tercinta ... Aku pun sebenarnya sudah tidak kuat lagi menyendiri begini. Gara-gara 6 tahun lalu setelah lulus kuliah memutuskan untuk fokus bekerja, aku jadi mengabaikan tentang perasaan cinta. Hingga saat ini aku menyesal, Aku sadar betapa susahnya mendapatkan bidadari surga. Padahal tidak ribet-ribet. Aku hanya menginginkan bidadari yang pandai menutup aurat kepada orang lain, mengaji, dan pandai mengurus rumah tangga.
"Inget Rey, jika kamu belum juga cari mantu buat ibu. Maka ibu akan bawakan janda buat kamu!"
Waduh bu, kok kejam amat sama anak sendiri!!
"Ya ibu. Rey gak mau sama janda," protesku tidak terima. Enak saja beliau bicara. Tidak mengerti perasaanku kah dirimu, Bu? Batinku meringis kesal. Huh, untuk kesekian kalinya lagi kuminta diberikan kesabaran kepada Allah SWT..
"Makanya, buruan cari pasangan. Terus Nikah!!."
"Nikah, Bu."
"Huffttt ... Terserah Ibu Aja Dehh!"
Malamnya setelah salat isya. Aku berniat untuk beli Roti Bakar kesukaanku yang gak jauh dari masjid tempat aku sholat tadi. Malam itu tidak seperti biasanya, aku lebih memilih untuk berjalan kaki dari pada naik motor Hhhe. Lumayan untuk menghemat bensin. Setelah berjalan cukup lama, akupun sampai ditempat langganku. Langsung sajah deh aku pesan roti bakar rasa coklat kesukaanku. 1 kotak saja sudah cukup bagiku. Sambil menunggu antrean yang lumayan panjang. Sejenak aku duduk di kursi panjang sambil memainkan HP ku. Akan tetapi, Ntah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seorang banci datang dan langsung bernyanyi gak jelas tepat disampingku, "Sontak aku menjauh dong."  Kejadian itu sempat memancing emosi jiwa ragaku berkumpul di ubun-ubun sambil melihatnya dengan mata sinisku yang penuh emosi.

Ku tak mau ku tak mau dimaduku tak mauku tak mau ku tak mau dimaduku tak mau hey hey
'Astaghfirullah hal'azim ... Ya Allah, kok bisa ya? disini ada Banci nyasar. Sungguh nyelekit hati ini mendengar nyanyiannya, apalagi melihat penampilannya itu loh!!,' jerit batinku.

aku tak mau jikalau aku dimadupulangkan saja ke rumah orang tuakubaru saja kau berada sudah mau kawin lagihai sudah mau kawin lagi
'Allahuakbar ... astaghfirullah hal'azim. Ya Allah ....' jerit batinku lagi. Jemari yang sudah kuat mengepal mungkin telah membuat kukunya berubah warna. Rasa ingin akuhajar ditempat ini orang, Tapi, Ku kuatkan Hati ini. Demi sebuah Roti Bakar ini.

Aku tak mau jikalau aku dimadupulangkan saja ke rumah orang tuaku
Dan .... Brakkk ...!Ntah, tanganku spontan langsung mengayun ke atas meja dengan kuatnya.
Spontan  meja yang kugebrak bergetar dengan suara yang sangat keras. Membuat semua orang yang ada disekitarku kaget setengah mati olehku. Mereka diam dan melongo. Aku pun begitu. Jujur saja, rasa malu bercampur emosi seakan-akan tengah melecut dalam diriku. Melihat aku yang begitu marah, banci tadi langsung pergi begitu saja, tanpa satu katapun, padahal belum aku tegur Hhhe. Mungkin dia merasa jika aku emosi karena dia. Makanya, dia langsung kabur ketakutan Hhhe. 
"Kenapa, Mas?" tanya seorang gadis yang memakai hijab berwarna biru. Wajahnya begitu cantik. Diriku seperti ditimpa batu yang amat berat lalu melenyap setelah melihat wajah gadis di depanku sekarang. Oh Ya Allah, apakah gadis ini yang akan menjadi bidadari surgaku? Duh.
"Mas?" ucapnya sekali lagi.
"Ah, ta-tadi ada lalat. Iya lalat. Hehehehe," jawabku terbata-bata, dan gadis ini hanya mengangguk. Jujur saja saat ini bukan hanya malu yang kurasakan, tapi gugup. Seakan-akan tengah menggebu dalam jiwaku.
Tiba-tiba segenap keberanian dalam jiwaku datang di malam ini juga. Entah dari mana asalnya. Entah ini hanya kebetulan atau keberanian sebenarnya. Aku bertanya hal yang terlalu pribadi kepada gadis itu, yang baru aku lihat. Bahkan, namanya pun belum aku ketahui.
"Mba, sudah menikah?"
Gadis ini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Belum?" tanyaku memastikan ucapannya.
"Iya."
"Mau jadi istri Mas?" dengan perasaan yang sangat gugup.
Hussfttt ....
Sontak saja orang-orang disekitarku yang melihat aku bicara seperti itu Bersorak-sorai sambil menepuk tangan. Waduhh, aku lupa kalu ini di tempat umum. Gimana ini? dalam batinku. Namun, gadis ini hanya diam dengan raut wajah yang membuat jantungku berdetak deg ... deg ser ... tapi, tiba-tiba seorang lelaki, ya anak muda gitu, kira-kira seumuran denganku, datang mendekati gadis di depanku ini. Dengan memanggil menggunakannya kata 'Sayang' dan spontan saja aku langsung menutup wajah menahan rasa malu dan pulang dengan roti bakar saja, bukan dengan bidadari yang telah aku impikan. 
Zuliardo Untuk Kamu, Kalian para pemuda,Sebaris kata salam perkenalanku,Kalian penikmat sajak dan Cerita,Sehelai kata membuka diary. Salam Kenal Semuanya....

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Singkat - Pertanyaan Sejuta Orang. Kapan Nikah? "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel