Jejak di Balik Teknologi ( Puisi-puisi Kritikan )
TITISAN PENA
Tanah diambil, anak terlantar hidup penuh tantangan. Di Era teknologi yang penuh dengan daya saing tinggi, membuat orang-orang yang kurang mampu tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi kerasnya kehidupan di zaman sekarang.
Hanya sedikit kisah dan cerita yang ingin aku sampaikan melalui sebuah puisi yang kutulis melalui hati yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi.
MENANAM BATU
Perlahan-lahan tiap lahan diratakan
Hanya untuk menyediakan lahan kaum juragan
Perlahan-lahan ladang di taklukan
Hanya untuk memperluas hunian kaum jutawan
Yang katanya untuk kemakmuran bersama
Buktinya makin hari semakin sengsara
Yang katanya untuk pemasukan Negara
Buktinya makin hari makin tak tau kemana
Pekerja pangan di bodohi di akali
Dipaksa anak turunanya menjadi buruh pabrik
Desa-desa semua menjadi tempat yang asri
Kini di babat habis oleh nafsu elite politik
Kini kita tinggal menunggu waktu
Tuan rumah bekerja sebagai bawahan tamu
Kini kita tinggal menunggu waktu
Bangsa yang subur hanya akan ditanami batu
Waktu berputar mengikuti rotasi
Keceriaan membeku dalam ruang apatis
Tanah lapang sunyi meratap rindu
Trend online bunuh rasa simpati
Klasik kuno berdering satu simponi
Millenial bangga Globalisasi instan
Jiwa luhur silam layu tak semerbak
Gosip hina penuh benci penuhi dunia maya
Masa dulu anugerah kalung jernih
Kompetisi jujur bacaan buku
Hormati resapi petuah guru
Haram menyontek pegang teguh rasa sportif
Media televisi tertangkap mata
Norma tergeser dari akal budi
Guru dipukul tanpa perlindungan
Tawuran merajalela tiap sekolah
Generasi dulu bangga bangsa
Budi utomo lambang bangkit
Sumpah pemuda satu bangsa
Reformasi tercipta sembilan delapan
Milenial atau apa itu namanya
Sekolah jadi ajang olah asmara
Tagih uang tinggi dari orang tua
Olah intim akhir putus dari sekolah
Elusif ilmu karan buana
Sinetron sebagai contoh norma hidup
Lebih pentingkan Tik-Tok dari pada pengetahuan
Nasihat Dunia maya dicerca ketinggalan zaman
Generasi dulu bersung dengan serius
Generasi sekarang cuma main-main
Lihat internet sebagai prestasi
Gunakan cara licik yang penting menang
Budaya pertiwi tenggelam per detik
Kain ibu jarang melekat juita
Sirih pinang terusir dari bibir
Kain mini dikenakan biar keren
Hai manis gagah seangkatan
Puisi ini bukan mengusik kenyamanan
Namun, sebuah harap nuansa khalik
Supaya tidak dijerat perkembangan zaman
Segenap cerita dan kisah yang telah disampaikan melalui sebuah puisi. Semoga memberikan manfaat dan pelajaran untuk kita semua. Dan, jangan lupa terus nantikan kisah\puisi\ dan cerita inspirasi dan motivasi dari blog Titisan Pena
Dipaksa anak turunanya menjadi buruh pabrik
Desa-desa semua menjadi tempat yang asri
Kini di babat habis oleh nafsu elite politik
Kini kita tinggal menunggu waktu
Tuan rumah bekerja sebagai bawahan tamu
Kini kita tinggal menunggu waktu
Bangsa yang subur hanya akan ditanami batu
BEDA ERA HIDUP
Keceriaan membeku dalam ruang apatis
Tanah lapang sunyi meratap rindu
Trend online bunuh rasa simpati
Klasik kuno berdering satu simponi
Millenial bangga Globalisasi instan
Jiwa luhur silam layu tak semerbak
Gosip hina penuh benci penuhi dunia maya
Masa dulu anugerah kalung jernih
Kompetisi jujur bacaan buku
Hormati resapi petuah guru
Haram menyontek pegang teguh rasa sportif
Media televisi tertangkap mata
Norma tergeser dari akal budi
Guru dipukul tanpa perlindungan
Tawuran merajalela tiap sekolah
Generasi dulu bangga bangsa
Budi utomo lambang bangkit
Sumpah pemuda satu bangsa
Reformasi tercipta sembilan delapan
Milenial atau apa itu namanya
Sekolah jadi ajang olah asmara
Tagih uang tinggi dari orang tua
Olah intim akhir putus dari sekolah
Elusif ilmu karan buana
Sinetron sebagai contoh norma hidup
Lebih pentingkan Tik-Tok dari pada pengetahuan
Nasihat Dunia maya dicerca ketinggalan zaman
Generasi dulu bersung dengan serius
Generasi sekarang cuma main-main
Lihat internet sebagai prestasi
Gunakan cara licik yang penting menang
Budaya pertiwi tenggelam per detik
Kain ibu jarang melekat juita
Sirih pinang terusir dari bibir
Kain mini dikenakan biar keren
Hai manis gagah seangkatan
Puisi ini bukan mengusik kenyamanan
Namun, sebuah harap nuansa khalik
Supaya tidak dijerat perkembangan zaman
Segenap cerita dan kisah yang telah disampaikan melalui sebuah puisi. Semoga memberikan manfaat dan pelajaran untuk kita semua. Dan, jangan lupa terus nantikan kisah\puisi\ dan cerita inspirasi dan motivasi dari blog Titisan Pena

Keren bro
BalasHapusMenyentuh, sesuai dengan kenyataan di negeri ini...
BalasHapusDitunggu puisi selanjutnya mas
BalasHapus