Aku Malu Dengan Ibuku Yang Buta
![]() |
Sahabat Pena |
Ketika aku tumbuh dewasa, aku sangat benci dengan hal itu Aku benci karena semua orang menatapku dengan tatapan sinis penuh rasa benci, Mereka memalingkan wajah dariku saat aku datang kesekolah bersama ibuku.
Ya, ibuku yang tidak bisa melihat membuat teman temanku menertawakan diriku, suatu hal yang sangat aku benci ketika ibu mulai mengunjungi diriku disekolah, perasaan dihati bercampur aduk saat itu, ingin rasanya Ibuku hilang dari hidupku selamanya. Karena aku, sudah tidak tahan atas semua ejekan yang aku dapat dari teman-temanku selama ini.
Walaupun ibuku seorang pekerja keras tapi itu justru membuat aku malu saat ibu bersama diriku. Saat itu, aku tidak bisa menjauh karena aku belum mengerti dengan semuanya. Saat itu, yang aku lakukan hanyalah menahan ejekan dan rasa malu yang aku terima,walaupun rasanya jengkel dan menyakitkan.
Saat pertumbuhanku mulai dewasa, diriku sudah mengerti dengan kehidupan yang aku jalanin, perlahan aku menjuh dari ibuku dan aku diam-diam mencari pekerjaan sendiri untuk modal hidup mandiri nanti. Dengan kerja keras yang aku lalui secara diam-diam dengan pendidikan yang lumayan, aku mendapatkan tawaran pekerjaan diluar Kota. Saat itu aku sangat senang dan gembira. Dan itu, awal yang baik bagiku agar aku tidak meliaht ibuku lagi dan menghilangkan rasa malu yang aku alami. Saat itu, aku memberitahu hal ini kepada ibuku. Mengetahui hal ini, ibuka sangat senang dan sangat mendukung dengan keinginan aku saat itu untuk bekerja merantau diluar Kota secara mandiri.
Waktu terus aku jalanin, hari-demi hari telah aku lalui untuk bekerja, akupun mulai perlahan sukses dan mampu membangun sebuah perusahaan besar sendiri. Tapi, semua pekerja yang aku lalui saat ini membuat diriku jenuh dan bosan, keinginan mencar pasangan hidup pun terlintas dalam fikiranku. Saat itu, aku bertemu dengan gasis cantik bagaikan bidadari disebuah tempat berbelanja, saat itu aku memberanikan diri untuk menghampiri Gadis tersebut, Selang beberapa lama kami pun berkenalan dan bercerita banyak hal dalam kehidupan, tanpa teras waktu berlalu cepat kamipun memutuskan untuk menikah. Setelah kami menikah, hidup terasa nyaman dan indah,. Apalagi ditambah dengan keberadaan anak-anak dalam hidupku, membuat hidup terasa sudah sempurna tanpa kekurangan sedikitpun.
Namun siapa yang sangka, hari-hari yang sangat indah yang telah aku jalanin bertahun-tahun terasa terguncang. Saat ibuku, datang dan menghampiri kediamanku, aku tidak mengetahui ibuku tau dari mana alamat aku. Padahal, aku tidak memberi tahu ibuku sedikitpun tentang alamat dan jalan kehidupanku di luar Kota. Saat itu, tatapan tajam sebelah mata ibuku membuat anak-anakku takut dan berlari kencang, Spontan aku langsung manarik ibuku dan memarahi dirinya.
" Ibu... Ngapain kesini? Lagian ibu tau dari mana alamat rumah aku?"
" Ibu cuma kangen Nak, kenapa kamu gak ngabarin ibu nak? "
"sudahlah bu, Ini uang!!! danibu jangan pernag datang kesini lagi "
" Tapi Nak.... "
" Sudahlah bu!!! Pergi sana!!! "
Ibuku yang mendengar perkataanku saat itu tidak mampu berkata-kata lagi dan hanya mengucapkan kata " Maaf " dan langsung pergi meninggalkan aku dan anakku, aku pun langsug masuk kembali kedalam kerumah.
" Ayah... tadi siapa ya Yah? "
" Bukan siapa-siapa kok Nak. Itu cuma pengemis yang mau minta Uang ":
Akupun langsung menyuruh anak-anakku masuk kembali dalam rumah dan menenagkan mereka.
Pada suatu hari, aku mendapatkan undangan acara dari klien kerja ku,. Tanpa disangka alamat yang tertera di undangan itu adalah alamat dimana diriku tinggal saat masih kecil bersama ibuku, waktu itu aku sangat bimbang untuk mendatangi undangan dari klien waktu itu. Tapi, jika aku menolak undangan itu. Tentu kesempatan bekerja sama dengan perusaan besar akan sirna dan tentu aku tidak menginginkan perusaan yang aku bangun dengan susah payah jatuh dan tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Dengan perasaan hati yang ingin menolak, tetap aku paksaakan untuk pergi dan memenuhi undangan itu.
Saat itu, aku sampai siang di tempat tujuan dan aku tinggal disebuah hotel dekat dengan desaku dulu yang sekarang sudah menjadi Desa yang luamayan besar. Tapi, aku masih ingat dengan persis bagaimana bentuk dan wujud desaku saat itu. Entah mengapa aku menjadi kangen dengan Desaku yang dulu, Tapi fikirku " Masa bodohlah, yang penting aku sekarang sudah sukses " Saat itu, waktu menjelang sore dan perasaan jenuh dikamar mulai terasa. Akupun, memutuskan jalan-jalan keluar mencari udara segar.
Tanpa aku duga, aku bertemu dengan tetangga kecilku dulu yang sering aku panggil bude, Ia pun langsung menghampiri aku dengan meneriakan namaku dan berlari mengarah diriku. Tidak heran jika aku bertemu dengan tetanggaku dulu, karena Hotel tempat tinnggalku dan Desa lamaku tidaklah jauh, bahkan hanya dengan jalan kakipun 5 menit sampai kesana.
" Bayu...apa itu kamu?tunggu saya bentar "
" Ehh Bude... iya saya bayu, ada apa ya bude? "
" sudah lama gak kelihatan, kemana aja kamu?
'
" Aku kerja bude diluar Kota "
" Gini Bay. Bude mau ngasih kabar tapi bude kemarin enggak ada nomor kamu, bahkan keluargamu aja gak ada yang tau kamu diamana "
" Kabar apa bude? Kayaknya penting ya? kita ngobrol di kafe depan sana aja bude biar enak "
aku pun mengajak bude ke kafe untuk ngobrol prihal kabar yangingin disampaikan kepada aku
" Gini bay, Ibu mu udah meninggal duni 3 bulan yang lalu, Beliau sakit keras dan ini ada sebuah surat yang ditulis ibumu sebelum ia meninggal dunia, Beliau berpesan jika bertemu dengan kamu kasihkan surat ini kepadanya. Kebetulan tadi Bude lihat kamu, Nih ambil suratnya Bayu "
Setelah Bude memberi suratnya, aku pun langsung membuka isi surat itu dan langsung membacanya.
" Untuk anakku Tersayang, Maafkan ibu selama ini, maafkan ibu yang tidak bisa buat kamu bahagia. Dan, Maafkan ibu jika kemaren ibu sempat kerumahmu tanpa kasih kabar ke kamu. Tapi, semua itu ibu lakukan karena ibu sudah terlalu rindu sama kamu Nak, ibu kangen dengan kamu Nak, sudah lama ibu tidak mendengar kabar dari kamu, Ibu juga khwatir jika kamu ada apa-apa disana yang menyebabkan kamu gak bisa ngabarin ibu.
Tapi, setelah ibu melihat kamu dan anak-anakmu kemaren, ibu merasa lega dan bahagia, karena kamu sudah menikah dan punya anak yang sangat cantik-cantik, ibu lega mendengarnya nak, rasa takut ibu selama ini telah terbantahkan saat melihat kamu kemarin Anakku.
Ibu tau jika suatu hari nanti kamu pasti akan kembali kesini, walaupun ibu tidak tau persis itu. Tapi, perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah, ada sebuah kisah yang ingin ibu ceritakan kepadamu Nak. Tapi, ibu sedang menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya. Namun, takdir berkata lain nak, ibu sudah pergi duluan dan hanya mampu menceritakannya dari surat ini anakku, Maafkan ibu ya nak.
Tahukah kamu Anakku, pada usia 5 Tahun kamu mengalami kecelakaan bersama ayahmu, pada saat itu ayahmu terluka parah dan tidak bisa diselamatkan. Namun, ibu masih bersyukur kamu selamat dari kecelakaan itu. Tapi, waktu itu kamu kehilangan penglihatanmu akibat benturan keras didekat matamu. Waktu itu, ibu tidak rela jika anak ibu satu-satunya tidak bisa melihat disaat usia muda. Maka, saat itu ibu putuskan untuk mendonorkan mata ibu ke kamu Nak.
Tapi, ibu tidak pernah menyesal dengan apa yang telah ibu lakukan waktu itu. Karena, melihatmu sukses sudah cukup untuk ibu. Annakku Tersayang, Ibu selalu mencintaimu sepenuh hati, semoga kamu bahagian ya Nak Salam ubtuk Istri dan Anak-anakmu dari ibumu "
Spontan setelah mendengar kisah ini akupun langsung menangis dan meneteskan Air mata, aku menyesal dan aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Aku telah menyia-nyiakan ibuku, perasaan campur aduk saat itu. Aku bahkan melupakan ibuku yang selalu ada untuk aku.
Catatan : Jangan pernah menyakiti hati Ibumu dan menyia-nyiakan segalah sesuatu yang telah Ibumu lakukan. Karena, kau tidak akan tau perjuangan dia waktu itu saat dirimu masih kecil dan belum mengerti apa-apa dengan kehidupan ini. Sayangi ibumu selagi beliau masih ada.


Anak Durhaka, kl nyata aja pingin gue tampol itu anaknya😢
BalasHapusUntung cuma cerita, coba kl ada di dekat gue orang kayak gitu, auto hajar��
BalasHapus