Cerpen Pendidikan - Pengorbanan Ibu Untuk Hidupku

Cerpen Pendidikan- Hari demi hari aku lalui seperti biasanya, Aku lebih banyak mengahbiskan waktuku untuk belajar dan membantu Orang tuaku bekerja.



Pengorbanan Ibu Untuk Hidupku

IDE: Rumia Cell/Facebook
Diedit ulang: Titisanpenabook
Perkenalkan Namaku Rizki Al Farizi atau orang-orang sekitarku lebih sering memanggilku kiki. Awal ceritaku dimulai saat itu, dimana waktu itu aku baru pulang dari sekolah. Ntah, sengaja atau tidak? Aku melihat ke arah luar pagar sekolahan dan kulihat ada seorang wanita Tua yang sedang dikerumuni banyak anak-anak kecil. Mereka tampak melempar wanita tua itu dengan kerikil ke arah wajahnya. Tak sesekali baju serta kerudungnya ditarik-tarik, bahkan rambut hitam keriting itu keluar dan terlihat kotor oleh tanah berlumpur. 
Wanita itu tidak banyak bicara. Sesekali cuman berteriak menyuruh mereka agar berhenti melakukan hal itu kepadanya. Namun, itu malah terdengar mengasyikan di telinga orang lain. Sebagian warga yang melihat malah memilih tidak peduli. Seakan kejadian itu dijadikan Tontonan Umum yang menghibur.
Mereka tidak tau siapa Wanita yang dihadapannya, yang mereka tau, jika wanita ini hanyalah seorang pembantu tua yang membawa penyakit saja.
Melihat hal itu, Spontan tanganku menggepal dengan eratnya, Sebagai tanda jiwa yang sudah penuh akan emosi!! Aku langsung menghampiri mereka semuanya dengan tatapan sinis.
"BUBAR!"
"BUBAR SEMUANYA!"
"Kalian dengar tidak? Aku bilang BUBAR!!" Mendengar ucapanku yang tidak dipedulikan oleh bocah-bocah itu. Kak Reynaldi yang kebetulan melintas dan melihatku, langsung turun dari kendaraannya dan membantuku untuk membubarkan bocah-bocah itu.
"woy! Bubar! Bubar!" seraya salah satu bocah langsung ngacir entah kemana diikuti teman-temannya yang lain.
Langsung saja aku hampirinya. Seraya menahan emosi dalam batinku. Tangan ini perlahan membersihkan wajah, rambut dan kerudung Ibu seperti sediakala. Ya..dia adalah ibuku, yang bekerja sebagai pembantu disebuah rumah mewah yang lokasinya tak jauh dari sekolahku.
Dalam hatiku berfikir, Jika ditegur pun rasanya percuma. Apalagi dimarahin, rasanya ngabisin tenaga aja. Mereka tak akan pernah mengerti. Siapakah wanita di hadapanku sekarang? Mereka Cuma memandang Wanita ini sebagai Nenek-nenek yang gak ada gunanya.
Ibuku yang dari tadi hanya diam dan menahan rasa sakit di kepalanya akibat terkena lemparan batu tadi. Ntah, apakah ibu masih trauma karena kejadian tadi. Aku tak berani bertanya pada ibu, aku takut itu akan membuat ibu sedih. Aku pun langsung mengajak ibu pulang dengan menumpang mobil Kak Reynaldi. Aku dan Kak rey itu sudah seperti adik dan kakak, kami sangat dekat, walaupun keadaan ekonomi kami sangatlah jauh berbeda.
*****
Sepulang ke rumah, aku dan kak rey langsung membawa ibu untuk beristirahat dikamar. Aku langsung mengambil Air panas untuk mengompres luka-luka ibu akibat hantaman batu krikil tadi. Melihatku ibu langsung tersenyum lembut.
"Aku Kompress ya bu lukanya?" tanyaku dengan lembut.
Ibu mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda IYA. Aku tak habis fikir masih ada orang-orang seperti itu, Orang-orang yang tak punya hati Nurani dan rasa kasihan terhadap sesama manusia. Apakah orang seperti mereka masih pantas hidup didunia? Husstff...ibuku langsung menghentikan ocehanku.
Anakku jangan bicara seperti itu, kita tidak pantas menghakimi orang dengan kata-kata itu, masalah pantas atau tidaknya mereka hidup itu adalah urusan yang Maha Kuasa Allah SWT. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah bersabar dan berusaha untuk menghadapi ini semua, kita tidak tau apa Hikma dibalik semua ini. Tapi, kita harus yakin jika Allah SWT tidaklah memberikan ujian diatas kemampuan hambanya. Iya bu.. Tapi kan? Husstt... lagi-lagi ibu menghentikan ocehanku sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk tidak melanjutkan ucapanku tadi.
Ya udah...ibu sudah gak apa-apa ki, ibu langsung kebelakang aja untuk menyiapkan makan siang, Pasti kamu lapar kan? Ohh iya..sekalian ajak Nak Rey juga untuk makan sama-sama.
Lihatlah? Apakah wanita seperti ini pantas untuk dihina? Walaupun dalam keadaan tertekan dia masih ingat dengan anaknya yang belum makan. Andaikan mereka tau sifat ibuku, tidak hanya melihat dari penampilan saja. Ucapku dalam hati.
Jelas teringat akan segala ejekan yang telah banyak aku dengar dari orang-orang sekitarku, sejak dulu ibu selalu dihina, Tepatnya semenjak ayahku meninggal dunia 5 Tahun yang lalu. Semenjak saat itu, ibu banting tulang mencari uang untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari. Seluruh waktu Ibu habiskan untuk mencari pundi-pundi rupiah.
Perjuangan Ibu tidaklah mudah. Oleh karena itu, ketika hari Ahad aku lebih memilih untuk membantu ibuku dibanding bermain bersama teman-teman sebayaku. Walaupun terkadang ibu melarangku untuk membantu. Tapi, keinginanku yang sangat kuat untuk membantu ibu tidaklah bisa ditolak. Apapun itu pekerjaan aku lakukan, asal mendapat pundi-pundi rupiah dengan cara yang halal.

Terkadang, ketika Kak Rey melihat kondisi ekonomi keluargaku, Tak jarang Ia memberikan sejumlah uang sebagai biaya hidup keluargaku. Namun, aku lebih memilih untuk menolaknya. karena aku, tak ingin selalu hidup diatas rasa kasihan orang lain, aku lebih memilih hidup sederhana dengan usahaku sendiri.
Melihat perjuanganku. Kak Rey mengerti dan berusaha memahaminya. Kalu begitu aku bantu saja ya? Ucapnya dengan serius.
"Gak usah lah kak Rey nanti capek, lagian aku masih bisa kerja sendiri kak."
"Aku lebih capek Ki, kalu cuma melihat saja, sedangkan kamu berjuang dengan keras, walaupun aku terlahir di keluarga Kaya, Tapi Ingat!! bukan berarti jiwaku lemah akan perjuangan mengahadapi kerasnya kehidupan. Lagian kita ini sudah seperti keluarga kan?"
Mendengar ucapan kak rey Spontan Air mata menetes dipipiku, seraya mengucapkan terima kasih banyak kepada kak rey
*****
Malam tiba, dimana hari itu sangatlah terasa dingin. Apalagi, ditambah hujan yang lumayan deras membuatku merasa menggigil. Bahkan dengan kondisi rumahku saat ini, nyamuk terkadang menjadi masalah utamaku saat tidur. Tak jarang aku terbangun ditengah malam akibat Nyamuk, seperti yang terjadi padaku malam ini.

Namun, kali ini bukanlah gara-gara nyamuk, tapi karena aku merasa haus. Merasa tenggorokan kering, aku langsung mengambil segelas Air minum di dapur. Dan, tanpa sengaja aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Suara siapa itu? Apa mungkin hantu? Masa iya hantu nangis, apa hantunya kejepit ya Hhhe..Ucapku dalam hati untuk menghilangkan rasa takut.
Aku pun langsung berangkat dari kamar menuju ke belakang. Dan, aku melihat ternyata itu adalah ibu yang saat itu sedang sholat tahajud. Penasaran dalam hatiku, akupun langsung menuju kamar ibuku kulihat ternyata ibu sedang berdo'a.

Allaahummam-la’ quluuba aulaadinaa nuuran wa hik-matan wa ahlihim liqabuuli ni’matin wa ashlih-hum wa ashlih bihimul ummah, “Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.”
Rabbij’alniy muqimash shalati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du’a. “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40)
Allahummaj ‘al awladana awladan shalihiin haafizhiina lil qur’ani wa sunnati fuqaha fid diin mubarakan hayatuhum fid dun-ya wal akhirah. “Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang shalih shalihah, orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan Sunah, orang-orang yang faham dalam agama diberkahi kehidupan mereka di dunia dan di akhirat.”
Allahumma barikliy fii awladiy, wa la tadhurruhum, wa waf fiqhum li tha’atik, war zuqniy birrahum. “Ya Allah berilah berkah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepada-Mu dan karuniakanlah hamba rezeki berupa bakti mereka.”
Ya Allah..janganlah engkau panggil aku ke hadapanmu sebelum melihat Anakku sukses, sungguh aku ingin melihat anakku ini sukses dan hidup enak, agar aku bisa pergi dengan tenang.
Ya Allah, bila mana rasa sakit ini sudah sampai di ujungnya, tolong kuatlah aku sampai aku bisa membahagiakan anakku, aku tak ingin dia hidup sendiri tanpa keluarga disisinya,
Robbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabanaar.
Allahumma waffiqna li tha‘atika, wa atmim taqshirana, wa taqabbal minna, innaka antas sami‘ul ‘alim. Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Mendengar Do'a ibuku tadi, spontan aku langsung membuka pintu kamar dan langsung memeluk ibuku dengan Air mata yang tersedu-sedu.
"Ibu....Maafkan aku ya bu, kalu selama ini aku banyak buat ibu susah."
" Ehh..kamu kok bilangnya gitu ki?gak kok, ibu malah seneng kl anak ibu satu-satunya bisa bahagia."
" Ibu sakit ya? sakit apa bu? kok gak bilang-bilang sma aku?"
"Gak kok ki, ibu gak apa-apa. Tadi itu mungkin kamu salah denger"
"Gak mungkin bu..aku gak mungkin salah dengar, ibu bilang tadi sakit bu, ibu sakit apa?cerita sama aku bu, jangan tahan sakit sendirian bu. Tanyaku sambil meneteskan air mata di pelukan ibu. "
" Gak kok ki, ini buktinya ibu masih sehat kan? Ucap ibu sambil tersenyum manis untuk menghilangkan rasa cemasku. "
" Ibu serius gak apa-apa? ibu tadi bilang sakit saat do'a... ?
" Ohhh tadi ibu berdo'a untuk teman ibu, dia lagi sakit keras, sengaja ibu tidak sebut namanya. Ucap ibu sambil mengelus rambutku yang ada dipangkuannya. "
" Ibu yakin gak apa-apa? Tanyaku dengan cemas dengan suara yang masih tersedu-sedu "
" Ehh...ini sudah malam ki, besok kamu sekolah kan?tidur sana, nanti kesiangan. ibu juga mau istirahat. "
"Tapi...ibu yakin gak apa-apa?"
"Iya Nak..ini ibu masih bangun kan? Ucapnya dengan senyum.
"Tapi bu........."
"Husfttttt.....kamu gak usah mikirin ibu, ibu masih sehat ki, kamu sekolah aja yang pintar,jadi anak yang sholeh, jangan lupa sholat 5 waktu dan tetap selalu rendah hati jika sudah sukses nanti nak. Ya udah tidur sana. Ucapnya lagi-lagi dengan seyum.
Mendengar hal itu aku pun langsung menuju kamar dan berbaring memandangin langit-langit rumah, sejenak aku berfikir tentang kata-kata ibu tadi, Apa benar ibu tidak apa-apa?kok aku jadi Khawatir ya. Apakah ini hanya perasaanku saja? Perasaan khawatir menyelimuti fikiranku, tanpa sadar bayang-bayang yang menghantui fikiranku malam itu, menghantarkan aku terlelap dalam tidur. dalam hati aku hanya berdo'a semoga ibuku selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT.

*****


Membuka mata di pagi hari, kutepis segala fikiran buruk yang kembali menghantuiku. Menatap masa depan yang cerah, yang akan aku mulai perjalanannya saat ini. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku pasti bisa sukses dan akan aku buat ibu bangga dengan diriku. Aku yakin itu!! Ucapku dengan penuh keyakinan dalam hati.

Jam menununjukan pukul 06.10 WIB, seperti biasanya aku bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Saat itu, aku langsung ke dapur untuk mengambil sarapan pagi sebelum memulai aktivitas disekolah. Seperti biasanya ibuku selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapanku. Setelah sarapan, aku bergegas langsung berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki.


"Bu..aku pergi dulu ya, Assalamu'allaikum!"
"Iya Nak, Hati-hati dijalan."


Usai sampai disekolah, akupun langsung bergegas masuk menuju ke dalam kelas. hati terkadang bertanya-tanya sedang apa ibu sekarang? Apakah ibu baik-baik aja ya? Rasa Khawatir datang setelah kejadian yang kemarin menimpa ibuku, kalau saja saat ini aku libur, pasti akan aku ikutin kemana ibu pergi untuk membantu dan melindunginya dari ejekan-ejekan orang yang tidak punya hati. Ucapku dalam lamunan pagi itu.

"Gubrak!! suara meja. Spontan aku terkejut dan terbangun dari lamunanku. "

"Ehh..Ternyata Loe Ayu!!Mau buat gue jantungan apa?Kaget gue!!"

"Ya Maaf Ki, lagian gue lihatin dari tadi, loe melamun aja. Ada apa sih?Coba cerita sama gue, gue kan orangnya pendengar yang baik, cantik dan baik hati lagi Hhhee"

"Loe ini Yu, udah sana gue lagi mau sendiri aja nih."

"Hmmm...biar aku tebak, pasti kamu lagi mikirin ibumu kan?Ya kan. Sudahlah ki gue tau semua cerita loe, gue tau kondisi loe sekarang gimana, dan gue tau kesulitan yang sedang loe hadapin sekarang. "

"Lohh kok loe tau sihh Yu?Emang tau dari mana? "

"Gue tau dari kak Rey, dia itu sudah seperti kakak mu sendiri kan?Jujur aj nih ya ki, kak Rey itu rumahnya sampingan denganku. Jadi, wajar aja kl aku tau semua tentang loe. "

"Masa iya?seriusss? kok gue gak tau ya. Ucapku dengan nada datar seolah tidak perduli."

"Iya lah, buat apa gue bohong. Ehh ki, loe tau gak?

"Ya gak tau lah. dengan Ekspresiku yang datar."

"Tunggu dulu, gue belum ngomong ini!!Main jawab aja!!. "

" Kamu Tau gak sebuah kata-kata indah?Pohon yang kuat gak akan tumbang hanya karena hembusan angin kecil, Jadi kl di ibarakan nihh, kamu itu angin..Ehh, Pohon yang kuat, jadi kamu gak akan tumbang hanya karena ejekan-ejekan itu. Ehhh bener gak sih yang gue bilang Hhhe, kok gue pusing sendiri ya. "

"Hhhe loe itu ya Yu, udah kayak motivator aja. Tapi, sayangnya bukan motivator yang pro, tapi abal-abal Hhhe " Ucapku dengan senyuman.

"Wahh loe mau ngejek ya, sini gue hajar loe. "

"Sontak akupun langsung kabur untuk menghindari pukulan dari Ayu tadi. Ya, walaupun gak sakit, tapi rata-rata bukan itu saja senjatanya wanita, ada satu yang paling aku takutin dari seluruh wanita, Yaitu cubitannya itu lohh Hhhe "

Candaan kecil dari Ayu tadi sedikit membuat aku lega dan melupakan masalah yang ada dirumah, yang terpenting sekarang aku harus fokus untuk sekolah dan mencari Ilmu sebanyak-banyaknya. agar aku bisa sukses dimasa depan nanti, dan membuat ibu bangga.

*****
Hari berganti Minggu, bulan berganti tahun. Tanpa terasa aku telah menyelesaikan pendidikanku di sekolah, aku mendapat beasiswa ke Tokyo, dan terpaksa dengan berat hati aku meninggalkan Ibu sendiri dirumah, Rasa tak kuat untuk mengambil langkah, sempat aku putuskan untuk menolak Beasiswa itu demi menemani ibu dirumah. Tapi, ibuku malah memaksa dan marah jika Beasiswa itu tidak aku ambil.

Rasa haru dan tangis menyelimuti keberangkatanku ke Jepang untuk melanjutkan Kuliah disana, segenap hati dan amanah aku titipkan ibuku kepada kak Rey dan Ayu untuk menjaganya dengan baik.

"Kak Rey, Ayu..Aku titip ibuku ya?jaga ibuku dengan baik, kalu ada apa-apa langsung telepon aku. Ucapku dengan air mata yang menetes. "

"Ibu..Aku pamit ya bu?Jaga kesehatan ibu disini, kalu ada apa-apa langsung telepon aku,kak rey atau ayu ya bu. Jangan diam aja ya bu. Ucapku dengan tangisan. "

"Iya nak..kamu juga disana jaga diri baik-baik, jangan telat makan, jangan makan sembarangan, jangan tinggal sholat dan Selalu rendah hati. "

Terlihat mata ibu yang berlinang seperti permata. Seperti ada sesuatu yang ingin jatuh dari matanya. Tapi, ibu berusaha menahannya agar tidak membuatku sedih.

" Aku pamit ya semuanya, Assalamu'alaikum "

Lambaian tanganku menandakan perpisahan yang cukup panjang yang akan aku lalui mulai sekarang, langkah kaki perlahan menjauh dari kediaman menuju mobil yang akan mengantarku ke bandara. Ntah, apakah aku kuat nantinya, jauh dari keluarga dan sahabat-sahabatku. Tapi tekad dihati seolah mengukuhkanku, untuk pulang menjadi orang yang sukses.

*****

Bertahun-Tahun telah aku lalui disini, Rindu terus terus hadir membayangi hati ini, tetapi kulalui dengan segenap hati dan keyakinan. Mengejar cita-cita jadi tujuan utama. Hingga aku sukses, aku tidak akan pulang ke rumah. Satu keyakinan yang terus aku pegang teguh. Sampai saat ini aku telah berhasil mencapai cita-citaku menjadi salah satu pengusaha Tersukses Di Jepang. Semua ini tidaklah lepas dari perjuangan dan do'a ibu yang telah beliau berikan padaku.

Sekarang, sudah waktunya aku untuk pulang ke INDONESIA melepas rindu ke Makam ibuku. sudah lama aku tidak pulang. Bahkan, semenjak ibuku meninggal akupun belum pernah mengunjungi makam beliau di INDONESIA.
Ya..Ibuku sudah meninggal sejak 1 tahun dari keberangkatanku ke Jepang, memang sakit rasanya tidak bisa hadir dipemakaman beliau, rasa kecewa bercampur sedih. betapa tidak, selama aku bersama ibu, aku tidak tau jika ibu sedang menahan sakit yang dideritanya, betapa bodohnya aku saat itu, seakan tidak perduli dengan ibu, bahkan sampai akhir hayatnya pun, Ibu tidak pernah cerita tentang sakitnya kepada siapapun. Aku merasa sangat konyol dan bodoh dalam hal ini.

Namun perlahan hatiku menerimanya, walaupun sakit dan pedihnya sangat sulit untuk hilang. Tapi, aku yakin jika semua ini adalah yang terbaik untuk ibu.
Tersenyum miris, aku mengusap air mata yang tak terasa jatuh. "Ibu sudah tenang di tempat lain. Saat aku kembali ke INDONESIA, beliau telah tiada. Sakitnya saja aku tidak pernah mendengar. Sungguh egois seorang Ibu, bukan? Saat susah dia ada. Namun, ketika anaknya sukses dia malah pergi."
"Seorang Ibu tidak pernah mengharapkan balasan dari anaknya. Begitulah seorang Ibu. Meskipun kau memberikannya lima karung emas, itu tak akan pernah mampu membalas seluruh jasa-jasanya dalam kehidupan kita."
"sekarang aku merindukannya. Seandainya beliau masih ada disisiku, ingin aku mengganti setiap luka, tangis, dan penderitanya dengan kebahagiaan. Namun, inilah kehidupan Realita. Khayalan tetaplah jadi impian. Dan, inilah dunia, semua yang hadir pasti akan pergi, semua yang hidup pasti akan mati. hanya do'a yang bisa kuberikan saat ini."
Aku usap foto Ibu berukuran 3x4 yang terselip di dompet kecilku. Semoga kau selalu bahagia di sana, Bu. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu. Aamiin.Ibu , Kata-kata dan Nasihatmu selama ini akan selalu aku ingat sebagai bukti kasih sayangmu kepadaku.
TAMAT.....

*****

Pesan: Selama kita masih bisa bersama orang tua, jangan sia-siakan waktumu, bahagiakanlah mereka dengan cara terbaikmu, bukan menunggu kau sukses baru membahagiakan mereka. Tapi, dimana kita masih bersamanyalah waktu yang paling tepat untuk membahagiakannya. Apapun itu, bagaimanapun caranya, bahagaiakan beliau dengan cara terbaikmu
Zuliardo Untuk Kamu, Kalian para pemuda,Sebaris kata salam perkenalanku,Kalian penikmat sajak dan Cerita,Sehelai kata membuka diary. Salam Kenal Semuanya....

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Pendidikan - Pengorbanan Ibu Untuk Hidupku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel