Cerpen Penampakan Yang Menakutkan - Sahabatpena
Assalamu'allaikum Semuanya.
Apa kabar? Semoga dalam suasana sekarang ini, kita semua dalam perlindungan Allah SWT. Amin...
Pasti kita semua pernah mengalami perasaan takut bukan?." Rasa takut adalah perasaan yang lumrah bagi setiap manusia. Karena rasa takut itu merupakan sebuah respon diri kita terhadap suatu kondisi yang sedang kita hadapi.
Banyak hal yang menyebabkan rasa takut itu datang pada diri kita sendiri, mulai dari rasa takut ditinggal kekasih hati ataupun karena kebanyakan nonton film yang Bergenre Horor yang mengakibatkan diri kita berimajinasi terhadap lingkungan sekitar sehingga kita seolah-olah membayangkan kejadian difilm yang kita tonton tadi terjadi pada kehidupan nyata.
Pada kesempatan kali ini saya membagikan sebuah cerpen yang bertema rasa takut.
Jika kalian penasaran tentang bagaimana alur ceritanya, Langsung aja Scrool dibawah ini ya sob.
"
Penampakan
Oleh : Dria/Facebook
"Ya ... Allah!" Ibu berlari melewati kamarku sambil terus menyebut nama Allah.
Dengan tergesa, kulepas mukena, meletakkan asal-asalan di gantungan baju, kemudian mengaitkan dekat jendela. Ingin segera menyusul Ibu.
Masih di depan pintu, kulihat banyak orang yang berlarian sambil menyebut nama Allah, sama seperti yang ibu lakukan tadi.
Aku melangkah keluar pagar, tampak di sebelah barat banyak orang yang entah sedang mengerumuni apa. Ada juga beberapa pengendara sepeda motor yang berhenti, sekadar turun dan melihat di kerumunan orang dekat pohon akasia di pinggir jalan. Rumahku empat rumah ke timur dari pohon akasia.
"Ada kecelakaan, dua orang mati. Satu hidup, tapi mungkin gegar otak, karena darah keluar dari telinga dan hidung." Seorang wanita pengendara sepeda motor yang sudah kembali dari kerumunan, memberitahuku tanpa diminta.
"Kecelakaan apa, Mbak?" tanyaku serius.
"Sepeda motor nabrak pohon. Anak SMA, udah nggak pakai helm, boncengan tiga lagi." Dengan asal Mbak itu menjawabku, sambil memakai helm, dan akhirnya pergi tanpa pamit.
Anak SMA? Jujur, penasaran, karena itu berarti aku kenal, atau Setidaknya tahu muka, karena sekolah menengah atas di desa ini cuma satu.
Kuputuskan balik badan.
Jangankan melihat korban, hanya mendengar ceritanya aja bisa membuatku tidak tidur tiga malam. Penakut! Ya ... itu aku!
Jangankan melihat korban, hanya mendengar ceritanya aja bisa membuatku tidak tidur tiga malam. Penakut! Ya ... itu aku!
Dreeet.
Bunyi phone yang termode silent. Sengaja aku ambil dulu tadi di kamar, sebelum duduk di teras.
"Hallo." Sengaja ku-loadspeaker, saat terlihat nama Sinta--teman sekelasku di SMA--tertera di layar.
"Nda, ada kecelakaan di dekat rumahmu?"
"Iya, tapi nggak tahu siapa? Aku takut yang mau lihat, lagian rame banget."
"Pras, itu Pras. Dia mati di tempat, Nda!"
"Ah ... jangan bercanda kamu, serius dong, Sin!" Aku setengah berteriak karena tak percaya.
Terbayang di benakku, peristiwa di kantin sekolah, tadi siang. Pras--manusia tertampan di seantero sekolah--menyatakan cintanya padaku. Tiga hari, aku menjanjikan waktu tiga hari lagi untuk menjawab perasaannya.
Kututup obrolan dengan Sinta secara sepihak. Tampak penambahan angka obrolan di aplikasi berwarna hijau bergerak cepat.
"Siapa tabrakan, Bu?" Aku tengadahkan kepala. Ibu berjalan lambat duduk di kursi di depanku. Ayah, yang tadi bertanya, malah memilih duduk bersila di lantai sambil merokok.
"Agus dan Pras, mati ditempat. Heru selamat, tapi ... banyak mengeluarkan darah dari hidung dan telinga." Ibu menjelaskan secara rinci ke Ayah, aku sengaja tak sedikit pun membuka mulut.
"Kasihan, Yah. Kepalanya pecah, otaknya berceceran. Bakal 'jadi' itu, nyariin sisa otak."
"Tahu dari mana kamu, kalo bakal 'jadi'? Kayak dukun aja."
"Eh, Ayah. Dimana-mana ceritanya juga sama, kalo mati penasaran bakal 'jadi', bukan rahasia lagi."
Deeg!
Seperti ada yang menghantam dada ini, mendengar jawaban Ibu. Penasaran? Pasti Pras penasaran dengan jawabanku. Aduuh ... apa yang harus kulakukan? Aku takut.
Seperti ada yang menghantam dada ini, mendengar jawaban Ibu. Penasaran? Pasti Pras penasaran dengan jawabanku. Aduuh ... apa yang harus kulakukan? Aku takut.
"Kamu kenapa, Nda? Pucet gitu mukanya, takut ya? Sudah nanti tidur di temani Ibu." Suara Ayah sedikit membuatku tenang. Tidak tidur sendiri malam ini.
****
Pembahasan tentang tabrakan tadi siang, ternyata masih berlanjut sampai malam. Hanya jadi pendengar setia, tak berani membuka suara. Jujur pikiran ini penuh dengan Pras, apakah dia penasaran? Apakah dia akan datang? Semoga tidak!
Pras, jangan datang ya. Jangan penasaran, mohonku sungguh-sungguh di dalam hati.
"Ayo, Ndah! Tidur di kamarmu ya, Ibu sudah ngantuk." Aku hanya mengangguk.
****
Kuberanikan diri mematikan lampu kamar, karena tak terbiasa tidur dalam kondisi kamar terang.
Lama rasanya mata ini bisa terpejam, sedangkan ibu sudah mengeluarkan suara-suara indah khas orang tidur.
Lama rasanya mata ini bisa terpejam, sedangkan ibu sudah mengeluarkan suara-suara indah khas orang tidur.
Hingga entah kapan bisa tertidur, mata ini terbuka lagi. Mataku langsung fokus pada cahaya lampu yang menerobos masuk lewat celah-celah jendela. Di sana ada penampakan berupa lambaian kain berwarna putih.
Mata kupelototkan ke arah penampakan. Napas seakan melambat, namun, degub jantung berdetak cepat. Tubuh ini tiba-tiba terasa berat digerakkan.
Lafadz Allah kusebut riuh dalam hati, bergantian dengan surah ayat kursi, dan surah an-nas.
Bayangan putih, tipis namun padat terlihat sangat jelas. Tidak ada tanda-tanda memblur sedikit pun. Padahal aku sudah membaca lafadz yang diyakini banyak orang untuk menolak kedatangan tamu yang berbeda alam.
Kulirik ibu, ingin rasanya menyentuh, atau kalau bisa membangunkannya. Namun, badan ini kaku, seperti terikat erat oleh tali tak kasat mata.
Tiba-tiba, aku ingat Pras. Kini aku mengganti doa dengan al fatehah, khususon untuknya. Setiap satu surah selesai terbaca, namanya kusebut agar dia tenang di alamnya.
Entah sudah berapa banyak kali, surat dan doa yang kubaca, namun, penampakan itu masih setia di hadapanku. Badan ini masih kaku tak bisa bergerak. Kupejam mata, dan berharap apabila terbuka nanti, penampakan sudah tak ada lagi.
Kurasakan gerakan Ibu bangun dari tempat tidur, dan menyalakan lampu. Dengan heran kubuka mata, bersamaan dengan Ibu yang sudah membuka pintu kamar, menyuruhku bangun.
Ya Allah, Ya Robb. Aku tersenyum sendiri, ternyata penampakan yang kutakutkan tadi adalah mukena, yang belum sempat aku lipat. Mukenanya melambai di saat kipas angin--yang tak pernah mati di kamarku--menerpa.
"
Jika ada sara dan kritikan silahkan langsung hubungi saya melalui kolom komentar atau langsung klik tombol ini.
Wassalamu'allaikum.

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Penampakan Yang Menakutkan - Sahabatpena"
Posting Komentar